Psikologi Dunia Maya

Forewords

Teknologi komunikasi dan informasi merupakan salah satu sendi kehidupan manusia modern yang berkembang dengan sangat cepat. Dan perangkat hebat yang mendasarinya tidak lain dan tidak bukan adalah komputer. Cikal bakal komputer telah ditemukan kurang lebih 5000 tahun yang lalu, dalam rupa sebuah mesin hitung sangat sederhana dan masih tradisional, Abacus. Yang kemudian terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Komputer modern sendiri mulai berkembang sejak era perang dunia I dan II. Namun kini ia telah menjelma menjadi sebuah mesin elektronik dengan kapasitas dan kemampuan yang luar biasa. Meskipun konsep kerjanya masih berkutat dengan logika 0 dan 1.

Perkembangan teknologi komputasi itu turut melahirkan generasi-generasi penerus perangkat teknologi komunikasi dan informasi. Hal itu tentu saja turut mempengaruhi dan merubah cara manusia berkomunikasi. Berkat kontribusi ARPA (Advanced Research Project Agency – Departemen Pertahanan Amerika Serikat), internet dapat ditemukan. Dan kini, internet merupakan salah satu sarana berkomunikasi dan bertukar informasi yang efektif dan efisien. Beragam fasilitas ditawarkan oleh internet, diantaranya; IRC (Internet Relay Chat; mIRC, x-chat, dsb), Instant Messaging (Yahoo! Messenger, Windows Live, dsb), E-Mail (Electronic Mail), WWW (World Wide Web), VoIP (Voice over Internet Protocol; Skype, dsb), dan lain sebagainya. Ditambah lagi dengan semakin berkembangnya platform Web 2.0 yang menurut saya agak mirip dengan konsep demokrasi; dari pengguna, oleh pengguna, dan untuk pengguna. Beragam platform Web 2.0 diantaranya; Blog, situs-situs social networking (Facebook, Multiply, Friendster, dsb), hingga platform micro-blogging (Plurk, Twitter, dsb). Selain itu telah banyak situs-situs konvensional yang kini mulai beralih ke platform Web 2.0.

Derasnya penetrasi internet di masyarakat, tak pelak lagi turut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat tersebut. Khususnya cara mereka berkomunikasi antara satu sama lain. Marshall McLuhan dalam karyanya “The Medium is the Message” mengklaim bahwa:

“suatu alat (atau suatu proses teknologi) modern – elektronik – memberikan bentuk baru dan merestrukturisasi skema ketergantungan sosial layaknya setiap aspek kehidupan pribadi kita… Kehidupan sosial lebih bergantung pada sifat dasar alat tersebut, yang menyebabkan orang-orang saling bertentangan antara satu sama lain, daripada terhadap konteks komunikasi itu sendiri. Kurangnya pengetahuan apa dan bagaimana komunikasi itu akan menyebabkan seseorang kurang memahami perubahan sosial dan budaya.”

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengurai garis besar mengenai fenomena internet secara psikologis dan sosiologis terhadap kehidupan manusia modern.

Nickname, An Alter-Ego of Internet Users?

Definisi alter-ego menurut wikipedia berbahasa Inggris; “An alter-ego (Latin; “the other I”) is a second self, a second personality or persona within a person.” Yang bila di-Indonesiakan kira-kira seperti berikut; Alter ego adalah diri kedua, personalitas kedua atau orang lain dalam diri seseorang.

Sedangkan definisi nickname yang dimaksud dalam tulisan ini dapat diuraikan sebagai berikut; Nickmane adalah sebuah nama yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi seseorang di dalam sebuah jaringan internet. Berbicara mengenai penggunaan nickname di dunia maya erat kaitannya dengan anonimitas. Mengenai anonimitas akan dituangkan dalam sub-judul berikutnya.

Dari penjelasan singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa tidaklah aneh dan tidaklah jarang, seseorang pengguna internet memiliki nickname lebih dari satu yang biasanya mereka gunakan secara bergantian pada saat-saat tertentu. Tidak jarang pula, ada yang memberikan sifat/identitas tersendiri untuk tiap nickname yang ia gunakan. Sifat/identitas itu bisa jadi sama persis, mirip, atau bahkan bertolak belakang dengan sifat/identitas dirinya yang sebenarnya. Disinilah salah satu bentuk fleksibilitas sekaligus ancaman dalam dunia maya; seseorang dapat menjadi siapapun yang ia inginkan!

Misal, X, seorang computer & internet freak yang lugu dan low profile. Di dunia nyata, orang-orang melihat X sebagai seorang yang baik hati dan suka menolong. Namun ketika ia berhadapan dengan dunia maya, ia ternyata memiliki dua nickname yang ia gunakan pada saat yang berbeda. Salah satu nicknamenya bernama Y, yang aktif dalam suatu organisasi bawah tanah dunia internet, beberapa kali terlibat aksi cyber war serta tindak kriminal online lainnya seperti penipuan dan carding. Sedangkan nicknamenya yang lain bernama Z, yang justru bertampang baik. Z aktif dalam beberapa organisasi online yang bergerak di bidang kemanusiaan. Selain itu Z juga sering berbagi ilmu seputar komputer dan internet di forum-forum besar di jagad maya.

Dari contoh diatas, mungkin dapat kita simpulkan bahwa Y dan Z merupakan perwujudan alter-ego dari seorang X. Salah satu alter-egonya bersifat liar dan destruktif sedangkan yang lainnya bersifat konstruktif. Sebuah perpaduan yang unik dan menarik.

The Art of Being Anonymous

Seni dalam menjadi tak bernama. Nickname hanyalah salah satu cara untuk menyembunyikan identitas asli pengguna internet. Kadangkala sebuah nickname diambil dari plesetan nama depan, nama belakang, portmanteau (gabungan dua kata atau lebih), inisial, sifat pribadi yang ingin ditonjolkan, nama benda/tokoh favorit, atau bahkan sederetan karakter yang diambil secara acak.

Pernah saya membaca ungkapan “give a man a mask, and he’ll show his true face.” Terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesianya bisa berarti; “berikan topeng kepada seseorang, dan dia akan menunjukkan tampang aslinya.”

Anonimitas di dunia maya memang tampak seperti pisau bermata dua, di satu sisi anonimitas memberikan kepercayaan diri yang lebih kepada penggunanya, namun di sisi lain, anonimitas justru dapat disalahgunakan untuk kegiatan yang tidak seharusnya.

Tidak jarang saya menemui kasus, bagaimana seseorang dapat bertindak dengan begitu bebasnya di dunia maya dengan bermodalkan nickname, proxy, dan ‘perlengkapan penyamaran’ lainnya. Misal; seseorang dapat memuji sekaligus mencerca orang lain, ia memuji menggunakan nickname A, sekaligus mencerca dengan menggunakan nickname B. Terdengar aneh, bukan?

Atau contoh lain, seorang X yang pemalu di dalam kehidupan sehari-harinya di dunia nyata ternyata adalah seorang perayu ulung saat ia berada di dunia maya. Di dunia nyata, si X tampak sebagai seorang perjaka biasa, namun di dunia maya ia ternyata seorang ‘playboy’. Hal ini berkaitan erat dengan subjudul sebelumnya, betapa hebat kombinasi antara anominitas, nickname, dan alter-ego dalam diri seorang pengguna internet.

Perlu diingat, anonimitas tidak selalu terkait dengan nama maupun nickname. Anonimitas memiliki ruang lingkup yang luas. Tingkat anonimitas yang digunakan pengguna internet tentu berbeda antara seseorang dengan orang lain. Misal;

  • Seorang bernama asli Alice, sudah cukup merasa anonim dengan hanya menggunakan nama aslinya. Toh, bila di-search di Google, akan ada ribuan orang yang bernama Alice. Ada Alice yang tinggal di Amerika, Alice yang menetap di Eropa, bahkan Alice yang telah tiada.
  • Lain halnya dengan Bob, yang merasa anonimitas merupakan sebuah ‘top priority’ di dalam dunia maya. Demi anonimitas, ia memiliki identitas palsu yang lengkap; mulai dari nama asli, nickname, tempat tinggal, dsb. Bahkan demi anonimitas, Bob rela berselancar di dunia maya dengan ‘melompat’ dari satu proxy ke proxy lainnya.
  • Seorang artis terkenal mancanegara bernama Carol, yang gila akan popularitas, menganggap anonimitas hanyalah hal sepele. Dan demi mendongkrak popularitas yang lebih, ia pun dengan santai mengumbar informasi dirinya ke dunia nyata maupun maya.
  • Atau seorang dermawan kaya yang terkenal, anggap saja namanya Denis, yang menempatkan anonimitas dalam keadaan-keadaan tertentu saja, misal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Ia telah menyumbangkan uang sekian juta dollar kepada suatu yayasan yang bergerak dalam bidang sosial dengan menggunakan identitas palsu. Ia merasa tidak nyaman bila menggunakan nama/identitas aslinya. Ia tidak ingin dirinya dianggap riya’ atau menyombongkan diri.

Perlu diingat, di dunia maya, anda dapat menjadi John/Jane Doe maupun si Fulan dengan kadar anonimitas yang anda tentukan sendiri. Namun beberapa informasi sensitif yang berpotensi disalahgunakan oleh orang yang tidak berhak, hendaknya tetap dijaga dengan baik agar tidak beredar secara luas, misalnya; riwayat keluarga, nomor rekening/kartu kredit, dsb.

What If The Real Social Relationship Moved Away to Virtual Relationship?

Jika kehidupan sosial di dunia nyata pindah ke dunia maya. Terdengar lucu memang, namun kalau boleh dibilang sebenarnya itulah tren yang saat ini semakin populer. Internet kini menjadi salah satu sarana interaksi sosial yang penting bagi masyarakat modern. Komunikasi tatap muka kini perlahan mulai digantikan oleh komunikasi tatap layar. Tidak jarang seorang pengguna internet menemukan dan berkenalan dengan banyak teman-teman barunya di dunia maya tersebut. Bisa saja berawal dari chatting, kemudian bertukar identitas melalui situs jejaring sosial, menjalin hubungan via sms/telepon, dan untuk selanjutnya bertemu langsung. Namun tidak jarang pula suatu interaksi sosial tersebut hanya sebatas interaksi melalui dunia maya saja, beragam alasan dikemukakan bila seseorang menolak untuk bertemu langsung dengan kawan barunya; minder, takut, ragu-ragu, dan lain sebagainya.

Adakalanya interaksi di dunia maya yang berlangsung intensif dan menyenangkan (melalui milis, chat, forum, dsb) dapat juga berlanjut ke dunia nyata. Ada satu fenomena yang saya akui unik; saya tergabung dalam sebuah komunitas blogger yang hebat (kami biasa berinteraksi melalui milis). Topik yang biasa kami bicarakan dan diskusikan di milis juga bervariasi, kadang serius, kadang pula canda tawa membahana meski hanya terungkap lewat deretan huruf-huruf “hahaha” maupun smiley. Interaksi di milis itu perlahan berlanjut di dunia nyata, dan voila! Walaupun pada awal pertemuan masing-masing individu terlihat sedikit canggung, namun perlahan suasana mencair dan berubah seolah-olah bertemu dengan teman lama yang telah mengenal pribadi tiap-tiap individu dengan baik.

How Addicted to the Internet are You?

Internet juga dapat menjadi candu bagi penggunanya (terlepas dari kontroversi para ahli yang masih memperdebatkan eksistensi internet addiction). Dalam stadium tinggi, adiksi terhadap internet bahkan dapat berpengaruh terhadap kehidupan nyata. Adiksi terhadap internet begitu beragam dan mencakup wilayah pembahasan yang sangat luas; mulai dari adiksi terhadap blog, social networking (Friendster, Facebook, Multiply, dkk), micro-blogging (Plurk, Twitter, dkk), chatting, game online, dsb. Para pecandu tersebut biasanya akan merasa gelisah dan bagai ada bagian yang hilang dari dirinya bila dalam jangka waktu tertentu tidak berinteraksi dengan internet. Kehidupan sosial di dunia nyata yang kurang baik adalah salah satu penyebab seseorang dapat menjadi pecandu internet. Ia mencari dan berinteraksi dengan lingkungan sosial di dunia maya sebagai sebuah alternatif yang dianggapnya paling pas.

David Greenfield, Ph.D, dari Center for Internet Behavior telah mengadakan studi bersama ABC News.com pada 1999, menyatakan bahwa setiap layanan yang disajikan di dunia maya memiliki pengaruh yang unik terhadap keadaan psikologis yang tentu saja turut berdampak pada kehidupan dunia nyata para penggunanya.

Menurut Jerald J. Block, M.D, dalam sebuah editorial yang diterbitkan American Journal of Psychiatry (2008), ada beberapa ciri-ciri orang yang teradiksi terhadap internet, yaitu;

  1. Penggunaan yang berlebihan
  2. Kegelisahan ketika tidak mengakses internet dalam interval waktu tertentu
  3. Peningkatan toleransi terhadap adiksi internet itu sendiri
  4. Dampak negatif (termasuk isolasi sosial)

Untuk mengukur seberapa ‘addict’ kah anda terhadap internet, anda dapat mengikuti beragam tes online yang disediakan oleh beberapa website, salah satunya; http://www.netaddiction.com/resources/internet_addiction_test.htm.

Dari pengamatan saya (hanya pengamatan secara umum, belum dibuktikan secara observasi maupun penelitian mendalam), terhadap beberapa blogger, facebook-er, dan plurker, yang saya kenal di dunia nyata (juga terhadap diri saya secara pribadi), beberapa saya simpulkan memiliki tingkat adiksi yang berbeda antara satu sama lain terhadap ‘dunia’ tersebut. Pada awal-awal booming-nya platform micro-blogging seperti Twitter dan Plurk pada pertengahan 2008 lalu, saya telah ‘sedikit’ mempelajari mengenai aktivitas per-micro-blog-an teman-teman saya (terutama di Plurk). Ada beberapa teman yang begitu aktif; plurking setiap saat, memberikan respon secara rutin, dsb. Bahkan sempat saya dengar selentingan; ‘PLURK = Plurk Lagi Untuk Raih Karma’. Ya, sistem peng-karma-an yang diterapkan oleh Plurk merupakan salah satu strategi yang efektif untuk membuat para plurker merasa betah berlama-lama ber-plurking-ria.

Bila mengutip dengan mengubah sedikit pernyataan kontroversial dari Mr. You Know Who, “plurk adalah tren sesaat.” Mungkin adalah benar. Pernyataan itu ternyata berlaku bagi beberapa plurker. Ada beberapa plurker juga yang kini dapat mengendalikan aktivitas plurkingnya. Namun ada juga plurker yang intensitas plurkingnya semakin menggila demi mencapai nirvana bahkan karma 100!

Final Words

Dari beberapa uraian singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa ternyata internet merupakan sebuah fenomena. Kehadiran dan perkembangannya merasuk dengan cepat ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Perkembangan internet pun merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan bagi kita, para manusia modern. Melek teknologi adalah sebuah keharusan. Namun begitu, sikap yang sebaiknya kita ambil adalah mengikuti perkembangan teknologi informasi tersebut dan menjadi bagian darinya, tanpa harus dikendalikan olehnya.

Dari beberapa uraian singkat diatas, dapat pula disimpulkan bahwa ternyata penelitian terhadap fenomena internet ini masih terbuka lebar, terutama dari perspektif Ilmu Psikologi, Ilmu Sosiologi, dan Ilmu Komunikasi.

[1] Sudirman, Ivan, dan Romi Satria Wahono. 2003. Sejarah Komputer. (C) Ilmu Komputer.com
[2] Yuhefizar. 2003. Tutorial Windows dan Internet. (C) Ilmu Komputer.com
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Alter_ego, diakses 25 April 2009
[4] UNESCO’s Expert Meeting Final Report and Selected Materials. 2004. Education, Art and ICTs: Integration for the Development of One’s Personality. UNESCO Institute for Information Technologies in Education: Moscow
[5] http://en.wikipedia.org/wiki/John_Doe, diakses 21 Mei 2009
[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Anonymity, diakses 21 Mei 2009
[7] http://en.wikipedia.org/wiki/Nickname, diakses 21 Mei 2009
[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Internet_addiction_disorder, diakses 21 Mei 2009
[9] http://en.wikipedia.org/wiki/Secret_identity, diakses 21 Mei 2009
[10] http://en.wikipedia.org/wiki/Pseudonym, diakses 21 Mei 2009
[11] http://en.wikipedia.org/wiki/Id,_ego,_and_super-ego, diakses 21 Mei 2009
[12] http://ajp.psychiatryonline.org/cgi/content/full/165/3/306, diakses 22 Mei 2009
[13] Gea, Antonius Antosokhi dan Antonina Panca Yuni Wulandari. 2005.  Character Building IV: Relasi dengan Dunia. Jakarta. PT Elex Media Komputindo
[14] http://en.wikipedia.org/wiki/Portmanteau, diakses pada 22 Mei 2009

Tentang ginanjar05

lalla
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s